Pernah ngelamar posisi yang kelihatan cocok banget sama skill kamu, ngerjain tes, sampai ikut proses screening ATS yang panjang, tapi ujung-ujungnya gak pernah ada kabar sama sekali, bahkan penolakan pun gak dikirim? Bisa jadi lowongan itu termasuk kategori "ghost job", lowongan yang tetap tayang meski perusahaan sebenarnya gak buru-buru atau bahkan gak beneran berniat mengisinya sekarang.

Kenapa perusahaan tetap memasang lowongan yang gak serius diisi

Ada beberapa alasan yang sering disebut sebagai motivasi di balik ghost job. Sebagian perusahaan memasang lowongan terus menerus buat "menyimpan" kumpulan CV kandidat potensial, siap dipanggil kalau suatu saat kebutuhan mendadak muncul. Sebagian lain memasang lowongan buat kesan bahwa perusahaan mereka terus berkembang dan menyerap tenaga kerja baru, meski kenyataannya belum tentu ada rencana rekrutmen aktif.

Survei dan data yang mendukung kekhawatiran ini

Beberapa survei ketenagakerjaan di berbagai negara menemukan bahwa proporsi lowongan yang termasuk kategori ghost job ternyata jauh lebih besar dari yang dibayangkan kebanyakan orang, dengan sebagian estimasi menyebut angka yang mencapai puluhan persen dari total lowongan aktif yang tayang di berbagai platform pencarian kerja pada satu waktu tertentu. Meski angka pasti buat konteks Indonesia belum banyak diteliti secara mendalam, keluhan serupa juga cukup sering muncul di berbagai forum dan grup diskusi pencari kerja lokal.

Sejumlah manajer perekrutan yang diwawancara berbagai media secara anonim mengonfirmasi bahwa praktik ini memang cukup umum terjadi, terutama di perusahaan besar yang punya tim rekrutmen internal yang sibuk mengelola ratusan posisi sekaligus, sehingga beberapa lowongan yang prioritasnya rendah kadang dibiarkan tayang lama tanpa benar-benar diproses secara aktif.

Bagaimana ghost job mempengaruhi persepsi terhadap pasar kerja secara keseluruhan

Dampak lain yang sering kelewat dibahas adalah bagaimana fenomena ini mendistorsi persepsi publik terhadap kesehatan pasar kerja secara umum. Jumlah lowongan yang tayang sering dijadikan indikator optimisme ekonomi, semakin banyak lowongan terbuka, semakin dianggap perekonomian sedang bertumbuh dan menyerap tenaga kerja. Tapi kalau sebagian signifikan dari lowongan itu sebenarnya ghost job, indikator ini jadi kurang akurat mencerminkan kondisi pasar kerja yang sesungguhnya.

Situasi ini juga berdampak ke tingkat kepercayaan diri pencari kerja secara psikologis. Pelamar yang berulang kali gagal mendapat respons dari lowongan yang kelihatannya banyak dan terbuka, bisa mulai meragukan kemampuan diri sendiri, padahal masalahnya bukan pada kualitas mereka sebagai kandidat, melainkan pada sifat lowongan itu sendiri yang gak pernah benar-benar diproses secara serius dari awal.

Tanda-tanda tambahan yang bisa membantu mengenali ghost job

Selain indikator yang udah disebutkan sebelumnya, ada beberapa tanda tambahan lain yang bisa membantu pencari kerja lebih jeli menilai keseriusan sebuah lowongan sebelum menghabiskan waktu dan energi melamar.

Coba Sendiri, Gratis

CV ATS Checker DebugGo mengecek CV kamu persis kayak cara sistem ATS baca dokumen, jadi kamu tahu pasti bagian mana yang bikin CV-mu gak terbaca sistem sebelum sempat dilihat manusia.

Cek CV Kamu Sekarang, Gratis

Dampaknya ke pencari kerja

Fenomena ini bikin pencari kerja menghabiskan waktu dan energi buat proses lamaran yang ternyata gak pernah berujung ke mana pun, sementara mereka sebenarnya bisa mengalokasikan usaha itu ke lowongan lain yang lebih nyata kesempatannya. Ini juga jadi salah satu alasan kenapa proses cari kerja belakangan terasa jauh lebih melelahkan dibanding sebelumnya, meski jumlah lowongan yang terlihat di berbagai portal justru kelihatan makin banyak.

Apa yang bisa dilakukan pencari kerja

Meski gak selalu mudah mengenali mana lowongan asli dan mana yang cuma "hantu", memastikan CV kamu sendiri udah dalam kondisi terbaik dan lolos screening ATS tetap penting, supaya di lowongan-lowongan yang beneran aktif diproses, kamu punya kesempatan terbaik buat lolos ke tahap berikutnya tanpa gagal cuma karena masalah format dokumen.