Kamu parkir di minimarket, ada tukang parkir yang minta bayar lewat QRIS, kamu scan, transfer, dan ngerasa itu udah wajar. Padahal bisa jadi QR yang kamu scan itu bukan punya minimarket atau pengelola resmi, tapi punya oknum yang sengaja nempelin stiker QR pribadinya di titik yang keliatannya "resmi".

Kenapa orang gampang percaya begitu aja?

Karena secara visual, tempat parkir yang pakai QRIS itu sekarang udah dianggap normal dan malah dianggap lebih modern serta lebih terpercaya dibanding minta uang tunai langsung. Ironisnya, justru rasa percaya ini yang bikin orang jadi kurang waspada, karena "kan bayar digital, pasti tercatat sistem", padahal QR itu bisa aja punya siapa aja yang taruh stiker di tempat yang strategis.

Cara sederhana ngeceknya. Setiap kali scan QRIS buat bayar apa pun, luangin dua detik buat baca nama merchant yang muncul di layar konfirmasi. Kalau namanya gak nyambung sama tempatnya, misalnya nama orang pribadi buat bayar parkir minimarket, itu tanda bahaya yang jelas.

Modus yang berkembang dari sekadar stiker tempelan

Selain stiker QR yang ditempel di atas stiker resmi, ada juga variasi lain yang lebih halus: oknum menyediakan "layanan bantu bayar parkir" dengan alasan mesin parkir sedang rusak atau QRIS resmi lagi error, lalu meminjam HP korban buat "membantu" scan QR yang sebenarnya milik pribadi si oknum. Cara ini lebih meyakinkan karena melibatkan interaksi langsung yang bikin korban merasa dibantu, bukan ditipu.

Di beberapa kasus yang pernah viral di media sosial, modusnya lebih jauh lagi: oknum berpakaian rapi menyerupai petugas resmi, membawa alat semacam mesin EDC portable palsu, dan meminta pembayaran parkir dengan tarif yang jauh lebih mahal dari tarif resmi, mengandalkan asumsi korban yang gak sempat mengecek tarif resmi di lokasi tersebut.

Peran pengelola tempat parkir resmi

Minimarket dan pengelola tempat parkir resmi punya tanggung jawab yang sebenarnya cukup besar dalam mencegah modus ini, meski sering kurang diperhatikan. Memasang QRIS resmi di tempat yang gak mudah dijangkau tangan sembarangan, memberi tanda visual yang jelas dan sulit ditiru, misalnya dengan menyertakan logo resmi minimarket di sekitar QR, serta melatih petugas keamanan buat mengenali dan menegur oknum parkir liar, semuanya jadi langkah pencegahan yang bisa dilakukan dari sisi pengelola.

Kenapa laporan soal modus ini sering gak sampai ke pihak berwenang

Nominal kerugian yang kecil per kejadian bikin banyak korban memilih diam dan menganggapnya "apes doang", daripada repot melapor ke pihak berwenang yang prosesnya kadang terasa gak sepadan dengan nilai kerugian yang dialami. Padahal, laporan yang terkumpul dari banyak korban justru penting buat memetakan lokasi-lokasi yang rawan modus ini, sehingga pengelola dan aparat setempat bisa lebih fokus melakukan pengawasan di titik-titik tersebut.

Coba Sendiri, Gratis

Butuh QR buat keperluan resmi kayak presensi, tiket, atau verifikasi produk? Bikin sendiri di QR Generator DebugGo, hasilnya bisa didownload langsung dalam hitungan detik.

Bikin QR Sekarang, Gratis

Nominalnya kecil, tapi kebiasaannya yang berbahaya

Kerugian dari modus ini biasanya cuma beberapa ribu rupiah per orang, makanya jarang dilaporkan serius. Tapi kebiasaan "asal scan tanpa cek nama merchant" yang terbentuk dari sini bisa jadi bahaya lebih besar kalau suatu saat kamu ketemu modus serupa dengan nominal yang jauh lebih gede.