Demi muncul di hasil pencarian recruiter dan lolos filter kata kunci ATS, banyak pelamar mulai menjejalkan sebanyak mungkin skill dan istilah teknis populer ke dalam CV dan profil LinkedIn mereka, terlepas dari seberapa dalam mereka benar-benar menguasai hal tersebut.
Kenapa kebiasaan ini terjadi
Sistem pencarian kandidat, baik ATS maupun fitur pencarian di LinkedIn, umumnya bekerja dengan mencocokkan kata kunci antara kebutuhan posisi dan dokumen kandidat. Semakin banyak kata kunci relevan yang tercantum, semakin besar kemungkinan muncul di hasil pencarian perekrut, sebuah insentif yang mendorong kandidat menjejalkan kata kunci sebanyak mungkin, terlepas dari relevansi sebenarnya.
- Skill yang dicantumkan tanpa konteks pengalaman nyata bikin perekrut kesulitan menilai kedalaman kemampuan kandidat yang sebenarnya.
- Wawancara jadi tahap penyaring utama buat membedakan kandidat yang benar-benar kompeten dengan yang cuma pintar menjejalkan kata kunci.
- Kepercayaan terhadap CV secara umum ikut terdampak, karena perekrut jadi lebih skeptis terhadap klaim skill yang tercantum tanpa bukti konkret.
Prosesnya jalan langsung di browser kamu, jadi isi CV yang berisi data pribadi gak pernah diupload atau disimpan di server mana pun.
Cek Skor CV Kamu SekarangPendekatan yang lebih sehat
Daripada menjejalkan kata kunci sebanyak mungkin, pendekatan yang lebih efektif jangka panjang adalah mencantumkan skill yang benar-benar dikuasai, disertai konteks konkret bagaimana skill itu dipakai dalam pengalaman kerja atau proyek nyata. Cara ini gak cuma lebih jujur, tapi juga lebih mudah dipertahankan saat kandidat benar-benar ditanya lebih lanjut soal skill tersebut di tahap wawancara.
Komentar 0